Widget HTML (label produk)

‏إظهار الرسائل ذات التسميات Penyakit & Kanker. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Penyakit & Kanker. إظهار كافة الرسائل

Batuk Kronis: Penyebab, Gejala, Obat, dan Pencegahan



batuk-kronis-doktersehat

MediNetiz – Apa itu batuk kronis? Batuk kronis adalah batuk yang sudah berlangsung lebih dari 2 bulan pada orang dewasa atau 1 bulan pada anak-anak. Meski terlihat sepele, batuk kronis dapat membuat kelelahan dan menganggu waktu tidur Anda. Batuk kronis dapat menghilang begitu penyebabnya bisa diatasi. Simak penjelasan lengkap mengenai penyebab, gejala, obat batuk kronis, dll di bawah ini.

Penyebab Batuk Kronis

Karena batuk kronis bisa terjadi di segala usia, perlu Anda ketahui bahwa batuk kronis pada orang dewasa sering kali disebabkan oleh TBC atau kebiasaan merokok. Sementara pada anak-anak, batuk kronis sering disebabkan oleh asma.

Beberapa penyebab-penyebab umum dari batuk kronis termasuk asma, rinitis alergi, persoalan-persoalan sinus (contohnya infeksi sinus), dan pengaliran balik ke esophagus (esophageal reflux) dari isi-isi lambung.

Pada kejadian-kejadian yang jarang, batuk kronis adalah akibat dari penghisapan dari benda-benda asing kedalam paru-paru (biasanya pada anak-anak). Jika batuk kronis hadir melakukan prosedur x-ray adalah sesuatu yang penting.

Berikut adalah penyebab umum batuk kronis yang harus Anda kenali, di antaranya:

1. Merokok

Memiliki kebiasaan merokok adalah penyebab yang paling umum dari batuk kronis. Bahkan jika Anda hanya menjadi perokok pasif, Anda juga bisa terjangkit bronkitis kronis. Bronkitis kronis sendiri memiliki gejala batuk kronis yang dapat timbul dan biasanya akan berlangsung lama.

2. Asma

Penyebab batuk kronis berikutnya adalah terkait dengan penyakit asma. Asma sendiri adalah penyakit paru-paru kronis di mana saluran udara di paru-paru rentan terhadap inflamasi dan pembengkakan. Pemicu asma setiap orang berbeda-beda, ada yang dipicu oleh udara, asap rokok, pilek, makanan tertentu dan olahraga.

Sementara itu, beberapa penderita asma ada yang mempunyai batuk kronis sebagai gejala mereka satu-satunya. Kondisi ini sering kali dirujuk sebagai asma varian-batuk. Gejala-gejala asma dapat diperburuk oleh udara dingin, paparan polutan atau aroma minyak wangi.

3. Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Gastroesophageal reflux disease adalah suatu penyakit dari kerongkongan dan lambung yang terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat dari menurunnya fungsi katup. Gejala umum dari GERD adalah mulas, nyeri dada dan mengi. Selain itu, GERD sendiri merupakan penyebab umum dari berkembangnya batuk kronis.

4. Infeksi

Infeksi seperti bronkitis atau pneumonia dapat menyebabkan batuk kronis. Infeksi-infeksi sendiri dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur. Sementara itu, infeksi virus tidak merespon pada antibiotik.

Pada pasien dengan asma, batuk akut, dan kronis, infeksi-infeksi virus pernapasan bagian atas sering kali berakibat pada batuk yang berkepanjangan bahkan setelah infeksinya telah hilang.

5. Obat-obatan

Obat ACE inhibitor adalah obat yang umum digunakan untuk mengobati gagal jantung dan tekanan darah tinggi. Pada beberapa orang, batuk kronis dapat bertahan selama beberapa minggu setelah Anda berhenti minum obat ACE inhibitor.

Meski begitu, Anda tidak harus berhenti mengambil obat resep ini tanpa berkonsultasi dengan dokter. Konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan ACE inhibitor dan kaitannya dengan batuk kronis.

6. Pertusis

Pertusis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri dengan gejala pilek, sedikit demam dan batuk hebat yang bisa membuat sulit untuk bernapas. Dikenal kenal dengan sebutan batuk rejan, banyak orang yang pada tahap awal tidak mengalami demam–namun batuk kronis yang menyertainya bisa berlangsung berminggu-minggu.

7. Sinus

Jika Anda memiliki masalah sinus dan belum ditangani dengan baik, hal itu bisa menyebabkan lendir tersumbat dan tidak bisa dikeluarkan. Lendir bisa mengalir ke belakang tenggorokan dan memicu refleks batuk. Kondisi ini juga dikenal dengan upper airway cough syndrome (UACS).

8. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

Salah satu penyakit yang bisa menjadi penyebab batuk kronis adalah PPOK. PPOK umum terjadi ketika saluran udara dan kantung udara di paru-paru menjadi meradang atau rusak. Kondisi ini lebih sering terjadi pada mereka yang berusia di atas 45 tahun dan memiliki kebiasaan merokok.

Pada penderita PPOK, paru-paru akan menghasilkan lendir berlebih, yang kemudian secara refleks tubuh akan mencoba mengeluarkannya dengan batuk.

Gejala Batuk Kronis

Selain batuk kronis yang bisa berlangsung lama, gejala batuk kronis lainnya tergantung kepada penyebabnya. Gejala yang bisa menyertai batuk kronis di antaranya:

  • Sesak napas.
  • Ulu hati terasa nyeri.
  • Rasa pahit pada mulut.
  • Suara serak.
  • Dahak tenggorokan.
  • Sakit tenggorokan.
  • Pilek dan hidung tersumbat.

Jika batuk kronis disertai beberapa gejala seperti berikut, sebaiknya Anda harus segera menemui dokter, seperti:

  • Berkeringat di malam hari.
  • Berat badan menurun.
  • Rasa nyeri di dada.
  • Muncul demam.
  • Batuk darah.

Obat Batuk Kronis

Pada dasarnya, perawatan batuk kronis ditentukan oleh penyebabnya. Bagaimanapun, pasien-pasien mungkin memperoleh pembebasan simptomatik dari obat-obat batuk bebas resep yang mengandung guaifenesin atau dextromethorphan, minum air yang banyak, menghirup uap panas, dan menggunakan obat batuk yang berupa tablet (lozenges). Pada kasus-kasus yang parah dokter mungkin meresepkan codeine.

Berikut adalah beberapa penanganan yang sesuai dengan penyebabnya, seperti:

1. Asma

Bronchodilators dan steroid-steroid yang dihirup diberikan untuk mengurangi peradangan dari saluran-saluran udara. Pada beberapa kasus-kasus, steroid-steroid oral jangka pendek diresepkan.

2. Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Perawatan termasuk menghindari makanan-makanan yang meningkatkan reflux (aliran balik), menghindari makan-makan sebelum berbaring, menaikan kepala ketika tidur, dan meminum obat-obat seperti famotidine (Pepcid), cimetidine (Tagamet), atau ranitidine (Zantac) untuk mengurangi keasaman lambung.

3. Sinus dan tetesan postnasal

Penggunaan decongestants seperti pseudoephedrine (Sudafed) atau antihistamines seperti diphenhydramine (Benadryl) mungkin memperbaiki gejala-gejala dari tetesan postnasal. Steroid-steroid hidung yang dihirup adalah sangat efektif dalam merawat rinitis alergi, penyebab yang umum dari batuk.

Sebagai tambahan, inhaler hidung lain seperti ipratropium bromide (Atrovent) dapat membebaskan tetesan postnasal. Antibiotik mungkin diresepkan jika penyebab yang ditentukan adalah sinusitis.

4. Infeksi

Pneumonia bakteri dan bronkitis secara khas dirawat dengan antibiotik seperti cephalosporins dan azithromycin (Zithromax). Jika pneumonia dekat pada dinding dada perdangan dari permukaan paru, hal itu dapat menyebabkan nyeri–dan dikenal sebagai pleurisy. Analgesik dapat digunakan untuk mengatasi hal ini.

Penekan-penekan batuk harus digunakan dengan hati-hati dalam situasi ini karena cara ini bisa ‘membersihkan’ paru dari lendir yang terinfeksi.

5. Konsumsi obat-obatan

Beberapa orang menggunakan obat batuk expectorant yang mengandung guaifenesin dalam mengurangi ketidaknyamanan. Adakalanya sulit untuk membedakan bronkitis virus dari bronkitis bakteri, dan antibiotik yang diresepkan.

Selain itu, obat-obatan yang lebih baru dari ACE inhibitor seperti obat-obat yang disebut ARB’s (Angiotensin receptor blockers), contohnya valsartan (Diovan), losartan (Cozaar), dapat digunakan sebagai alternatif karena mempunyai potensi yang lebih rendah untuk menyebabkan batuk kronis.

Pada beberapa kasus, asmatik-asmatik dapat menghasilkan lendir hijau yang terlihat terinfeksi. Dokter bisa memeriksakan lendir untuk menentukan apakah infeksi hadir.

Pencegahan Batuk Kronis

Selain dapat membantu meredakan gejala, beberapa langkah di bawah ini dapat dilakukan untuk mencegah batuk kronis:

  • Menghindari alergen atau bahan-bahan atau lingkungan yang mungkin menjadi pemicu gejala alergi di tubuh Anda.
  • Konsultasikan kembali dengan dokter mengenai manfaat dan risiko dari obat ACE inhibitor.
  • Jangan merokok, karena merokok adalah penyebab yang paling umum dari batuk kronis.
  • Bicara pada dokter anda tentang mengendalikan asma, hidung yang meler (postnasal drip), atau GERD anda untuk menghindari gejala-gejala batuk.
  • Jaga jarak dari orang-orang lain yang diketahui sakit bronkitis atau pneumonia.
  • Makan buah. Penelitian menyarankan bahwa diet-diet yang tinggi dalam serat buah dan flavonoids mungkin mencegah batuk produktif yang kronis.
  • Perbanyak minum air putih. Air putih membantu ‘menenangkan’ peradangan yang terjadi pada tenggorokan. Jika terdapat lendir, air putih juga membantu melancarkan sekresi pada tenggorokan.

Ketika seseorang sudah merasakan bahwa batuk kronis nya mengganggu aktivitas makan, tidur dan bekerja, mulailah untuk mengonsumsi obat pereda batuk. Tujuan obat pereda batuk agar penderita bisa beristirahat, makan dan bekerja dengan tenang meski hanya sementara.




Penyakit Epilepsi: Penyebab, Gejala, Pengobatan


Penyakit Epilepsi adalah Penyakit yang Sering Disebut Penyakit Ayan

MediNetiz - Epilepsi adalah suatu kondisi yang dapat menjadikan seseorang mengalami kejang secara berulang. Kerusakan atau perubahan di dalam otak diketahui sebagai penyebab pada sebagian kecil kasus. Epilepsi sering disebut juga sebagai penyakit ayan.

Gejala kejang bervariasi, banyak pasien memiliki lebih dari satu jenis kejang, serta dapat mengalami gejala masalah neurologis lainnya. Pada umumnya, kejang yang dirasakan bisa berlangsung  beberapa detik hingga beberapa menit tanpa adanya pemicu yang jelas.

Gejala Epilepsi

Gejala utama penyakit epilepsi berupa kejang berulang. Karakteristik kejang sebagai gejala epilepsi akan bervariasi dan bergantung pada bagian otak yang terganggu pertama kali dan seberapa jauh gangguan tersebut terjadi. Berdasarkan gangguan pada otak, jenis kejang pada ayan ini dibagi menjadi dua, yaitu kejang parsial dan umum.

Pada kejang parsial atau focal, otak yang mengalami gangguan hanya sebagian saja. Kejang parsial ini dibagi lagi menjadi dua kategori, yaitu: kejang parsial simpel (tanpa kehilangan kesadaran) dan kejang parsial kompleks. Kadang-kadang, kejang focal memengaruhi kesadaran penderita sehingga pasien terlihat seperti bingung atau setengah sadar

Sementara itu, kejang umum yang jadi gejala epilepsi akan membuat orang menangis atau mengeluarkan beberapa suara dan memiliki gerakan ritmis pada lengan dan kaki. Hal ini biasanya disertai dengan:

  • Mata terbuka lebar.
  • Kesulitan bernapas untuk beberapa saat sehingga badan terlihat pucat atau bahkan membiru.
  • Kembali ke kesadaran secara bertahap dan pasien mungkin bingung untuk beberapa waktu.
  • Tubuh yang menjadi kaku selama beberapa detik. Ini bisa diikuti dengan gerakan-gerakan ritmis pada lengan dan kaki atau tidak sama sekali.

Penyebab Epilepsi

Penyebab epilepsi adalah hal yang masih perlu pengkajian mendalam. Hingga kini penyebab epilepsi yang spesifik belum bisa ditemukan dengan pasti. Pada kasus epilepsi yang teridentifikasi, kehadiran penyakit ini biasanya melibatkan otak yang terpengaruh oleh beberapa faktor, diantaranya:

  • Cedera kepala berat
  • Infeksi otak
  • Kekurangan oksigen
  • Penyakit serebrovaskuler
  • Riwayat munculnya penyakit yang sama dalam keluarga

Diagnosis Epilepsi / Penyakit Ayan

Biasanya dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien, misalnya apakah pasien menderita suatu kondisi yang bisa menyebabkan epilepsi. Selain itu gaya hidup pasien (misalnya apakah pasien pecandu minuman beralkohol atau pengguna narkotika), dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi pasien juga sangat penting.

Selain itu dokter juga perlu mengetahui ciri-ciri kejang yang dialami. Hal ini perlu dilakukan karena sejumlah kondisi lain kadang-kadang memiliki gejala yang serupa dengan penyakit ayan ini seperti migrain dan serangan panik. Selain memerhatikan gejala epilepsi yang muncul, pemeriksaan tambahan biasanya dilakukan untuk diagnosis adalah:

  • Elektroensefalogram (EEG)

EEG dapat mengonfirmasikan diagnosis dan memberikan informasi lebih lanjut tentang kejang. Tindakan ini menggunakan sensor khusus yaitu elektroda yang dipasang di kepala dan dihubungkan melalui kabel menuju komputer. EEG akan merekam aktivitas elektrik dari otak, yang direpresentasikan dalam bentuk garis gelombang. Perubahan pola selama kejang dapat menunjukkan bagian mana dari otak yang dipengaruhi sehingga dapat membantu dalam pengobatan.

  • MRI scan

Jenis pemeriksaan yang dilakukan dengan bantuan gelombang radio dan medan magnet ini menghasilkan gambar organ dalam tubuh secara terperinci. Hal ini bertujuan mengetahui adanya tumor otak atau kecacatan pada struktur otak sebagai penyebab epilepsi.

Komplikasi Penyakit Ayan atau Epilepsi

Masalah kesehatan mental yang muncul akibat penyakit epilepsi merupakan hal yang serius dan perlu penanganan khusus. Penderita bisa saja melakukan bunuh diri akibat merasa depresi dengan kondisinya tersebut atau dikarenakan efek samping obat anti ayan yang dikonsumsi. Dalam hal ini, peran keluarga dan orang-orang yang dekat dengan penderita sangat dibutuhkan untuk selalu memberikan dukungan.

Dalam kasus yang jarang terjadi, ayan atau epilepsi adalah penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi berupa status epileptikus. Status epileptikus merupakan kondisi ketika penderita mengalami kejang selama lebih dari 5 menit atau serangkaian kejang pendek. Biasanya penderita status epileptikus akan berada dalam keadaan yang tidak benar-benar sadar ketika serangkaian kejang pendek terjadi. Status epiliptikus dapat menyebabkan kerusakan pada otak secara permanen, bahkan kematian.

Alasan kenapa kejang-kejang pada penderita epilepsi perlu ditangani dengan tepat adalah untuk menghindari terjadinya komplikasi dan situasi yang dapat membahayakan nyawa penderitanya

Pengobatan Epilepsi

Epilepsi adalah penyakit yang pada umumnya dapat ditangani dengan anti-kejang. Jika pengobatan epilepsi dengan cara ini tidak berhasil, dokter mungkin menyesuaikan dosis atau beralih ke obat yang berbeda.

Sekitar dua pertiga dari pasien yang menderita terbebas dari kejang dengan mengonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter saat menjalani terapi pengobatan epilepsi. Penyakit epilepsi adalah penyakit yang bisa ditangani dengan tindakan yang tepat dan pengobatan epilepsi pun cukup beragam untuk dapat memperbaiki kondisi gangguan kesehatan ini.

Saat seseorang sudah tidak mengalami kejang selama 1-2 tahun, biasanya dokter akan menurunkan dosisnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya berhenti mengonsumsi obat.

Sementara itu, jika penggunaan beberapa obat tidak memberikan efek yang baik, dokter bisa menyarankan diet khusus. Diet yang dilakukan adalah diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Pada akhirnya, hal ini akan menciptakan perubahan dalam otak yang dapat membantu mengurangi kejang.

Jika Anda melihat seseorang yang mengalami kejang, lakukan beberapa langkah berikut:

  • Bersihkan lingkungan dari benda apa pun yang keras atau tajam
  • Kendurkan apa-apa yang mengikat di leher
  • Letakkan sesuatu yang lembut di bawah kepala
  • Jangan menempatkan sesuatu di dalam mulut

Banyak orang yang menderita penyakit ayan dapat hidup bebas dari kejang saat mengonsumsi obat-obatan sesuai dengan jadwal yang diberikan dokter. Selain itu, dokter spesialis saraf juga dapat membantu mengurangi dampak penyakit epilepsi.




Mengenal Lebih Jauh Tentang Penyakit Hordeolum



Doktersehat-Mengenal-Lebih-Jauh-Tentang-Penyakit-Hordeolum
Photo Credit: Flickr.com/twink21

Inkes – Semua orang pasti sudah tidak asing mendengar kata bintitan. Akan tetapi bagaimana jika Anda mendengar hordeolum? Tentu, kata itu adalah sesuatu yang cukup asing di dengar. Padahal, bintitan dalam bahasa medis disebut juga hordeolum.

Hordeolum adalah infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi kelopak mata bagian atas maupun bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri, biasanya disebabkan oleh kuman Stafilokokus (Staphylococcus aureus). Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, mulai anak-anak hingga orang tua.

Data menunjukkan bahwa, angka kejadian pada usia dewasa lebih banyak dibanding anak-anak. Tidak ada perbedaan angka kejadian antara wanita dengan pria. Hordeolum dapat timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau lebih, kelenjar kelopak mata tersebut meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis dan Moll.


Berdasarkan tempatnya, hordeolum terbagi menjadi 2 jenis :

  1. Hordeolum interna, terjadi pada kelenjar meibom. Pada hordeolum interna ini benjolan mengarah ke konjungtiva (selaput kelopak mata bagian dalam).
  2. Hordeolum eksterna, terjadi pada kelenjar zeis dan kelenjar moll. Benjolan nampak dari luar pada kulit kelopak mata bagian luar (palpebra).

Tanda-tanda hordeolum sangat mudah dikenali yakni nampak adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau bawah dengan warna kemerahan. Sering kali nampak bintik berwarna keputihan atau kekuningan disertai dengan pembengkakan kelopak mata.

Pada hordeolum interna, benjolan akan nampak lebih jelas dengan membuka kelopak mata. Keluhan yang kerap dirasakan oleh penderita hordeolum diantaranya rasa mengganjal pada kelopak mata dan rasa nyeri.

Kadang kala, hordeolum juga menyebabkan mata berair dan sensitif terhadap cahaya. Hordeolum dapat membentuk abses di kelopak mata dan pecah dengan mengeluarkan nanah.

Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam 1-2 minggu, namun tidak jarang memerlukan pengobatan secara khusus seperti obat topikal (salep atau tetes mata antibiotik) maupun kombinasi dengan obat antibiotika oral.

Penanganan Hordeolum

  • Kompres dengan kain hangat selama 10-15 menit, lakukan hal ini 4 kali sehari.
  • Gunakan antibiotik topikal (salep, tetes mata), misalnya: Gentamycin, Neomycin, Polimyxin B, Chloramphenicol, Dibekacin, Fucidic acid, dan lain-lain.
  • Obat topikal dapat digunakan selama 7-10 hari asal sesuai anjuran dokter, terutama pada fase peradangan. Antibiotika oral (diminum) seperti: Ampisilin, Amoksisilin, Eritromisin, Doxycyclin.
  • Antibiotik oral digunakan jika hordeolum tidak menunjukkan perbaikan dengan antibiotika topikal. Obat ini diberikan selama 7-10 hari.

Penggunaan dan pemilihan jenis antibiotika oral hanya atas rekomendasi dokter berdasarkan hasil pemeriksaan, Adapun dosis antibiotika pada anak ditentukan berdasarkan berat badan sesuai dengan masing-masing jenis antibiotika dan berat ringannya hordeolum.

Obat-obat simptomatis (mengurangi keluhan) dapat diberikan untuk meredakan keluhan nyeri, misalnya: asetaminofen, asam mefenamat, ibuprofen, dan sejenisnya.

Apa yang Harus Dilakukan untuk Penderita Hordeolum?

Hindari mengucek-ucek atau menekan hordeolum. Biarkan hordeolum pecah dengan sendirinya, kemudian bersihkan dengan kasa steril ketika keluar nanah atau cairan. Tutup mata pada saat membersihkan hordeolum, untuk sementara hentikan pemakaian make-up pada mata. Lepaskan lensa kontak selama masa pengobatan.

Pada awalnya infeksi hanya memerah, saat itulah sel-sel darah putih yang berfungsi menghancurkan kuman sedang aktif bekerja. Jika kondisi tubuh Anda sedang dalam keadaan baik, sel-sel darah akan dapat bekerja dengan baik sehingga kuman akan kalah dan dengan sendirinya bintitan akan hilang. Tapi jika sel darah yang kalah, lama kelamaan akan melembek dan menimbulkan nanah.

Pengobatan Hordeolum

Hordeolum yang sudah besar atau sudah menunjukkan fase abses setelah insisi (penyayatan) dianjurkan kontrol dalam seminggu atau lebih untuk penyembuhan luka insisi agar benar-benar sembuh sempurna.

Perlu diketahui, jika bintitan didiamkan tanpa mendapatkan penanganan apapun, lama kelamaan bintitan akan membesar dan pecah sendiri. Akan tetapi pecahnya bukan berarti telah sembuh, melainkan hanya bagian luarnya saja yang pecah, isinya tidak ikut keluar sehingga akan meninggalkan bekas yang menonjol pada bagian yang pecah tersebut.

Berbeda jika dilakukan insisi, karena prosesnya dilakukan melalui bagian dalam kelopak mata yang panjangnya hanya berkisar 1 hingga 2 mm—kemudian baru dilakukan kuretase yaitu pengeluaran isinya. Tindakan ini tak akan menimbulkan bekas.


Oleh karena itu, agar hordeolum tidak terjadi Anda harus menjaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum menyentuh wajah, usap kelopak mata dengan lembut menggunakan lap hangat untuk membersihkan ekskresi kelenjar lemak.

Selain itu, jaga kebersihan peralatan make-up agar mata tidak terkontaminasi oleh kuman dan gunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu. Jika Anda memakai lensa kontak, cuci dan sterilkan sebelum digunakan. Pastikan Anda tidak lupa mencuci tangan sebelum memasangnya.