Widget HTML (label produk)

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Pria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Pria. Tampilkan semua postingan

Bahaya Onani Terlalu Sering, Ini Pengaruhnya Bagi Kesehatan



Doktersehat-bahaya-onani
Photo Credit: Flickr.com/Tristin Corbett

Tipsehat  – Mendapatkan kepuasan seks tanpa melakukan hubungan seksual secara langsung atau biasa disebut onani adalah salah satu aktivitas seksual yang masih terbilang ‘normal’. Meski Anda bisa mendapatkan kepuasaan seksual tanpa khawatir terkena penyakit kelamin, sering onani ditengarai memberikan dampak negatif bagi kesehatan.

Menurut survei, kebanyakan kaum laki-laki lah yang melakukan onani, bahkan ada yang hingga kecanduan sampai-sampai menyebabkan gelisah jika dalam sehari tidak melakukannya. Namun tahukah Anda dampak apa saja yang bisa terjadi jika terlalu sering melakukan onani?


Pada dasarnya dampak buruk onani bisa terlihat dari fisik maupun non fisik. Seperti dikutip dari askmen, aktivitas onani terlalu sering bisa memicu aktivitas berlebih pada saraf parasimpatik. Dampaknya produksi hormon-hormon dan senyawa kimia seks meningkat termasuk serotonin, asetilkolin dan dopamin.

Sementara jika Anda termasuk orang yang sulit menghilangkan kebiasaan onani, hal itu bisa memengaruhi tubuh akibat kelebihan produksi hormon seks dan neurotransmiter.

Meski dampaknya pada setiap orang berbeda, terlalu sering onani dapat memicu gangguan kesehatan seperti kelelahan, nyeri panggul, hingga testis sakit. Kontraksi otot saat mengalami orgasme bisa memicu nyeri otot, terutama di daerah punggung dan selangkangan.

Bahaya Onani Lain yang Bisa Terjadi

  • Iritasi kulit

Meski onani adalah aktivitas seksual paling aman dari penyakit menular seksual, cedera bisa muncul dalam bentuk iritasi kulit jika Anda melakukan onani terlalu sering dan kasar. Risiko yang lebih berbahaya, onani dapat menyebabkan terjadinya fraktur penis yang disebabkan oleh adanya paksaan membengkokkan penis saat ereksi.

Namun demikian, kecil kemungkinan Anda mengalami cedera atau sakit akibat onani. Sebagian pria khawatir penis akan cedera karena gesekan yang terlalu kencang. Namun kondisi ini sangat jarang terjadi, kecuali penis yang sedang ereksi dibengkokkan oleh orang lain.

  • Menimbulkan linu

Bahaya onani terlalu sering dapat menyebabkan penis terasa linu. Seorang pria yang melakukan onani terus-menerus dapat mengalami pembengkakan pada penis yang disebut edema akibat dari penumpukan cairan. Pembengkakan ini umumnya akan mereda dalam 1-2 hari.

  • Memicu prostat

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa seorang pria muda yang sering melakukan onani memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker prostat. Namun sebaliknya, pada pria lebih tua, aktivitas onani justru dapat menurunkan risiko terkena kanker prostat. Walau demikian, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal ini.

  • Gangguan masturbasi kompulsif

Terlalu sering melakukan onani dapat membuat seseorang menjadi kecanduan dan mengalami gangguan masturbasi kompulsif. Seseorang yang mengalami gangguan masturbasi kompulsif akan memilih untuk melakukan onani secara terus-menerus.

Mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah dan menyaksikan hal-hal berbau porno untuk menyalurkan perilaku kompulsif mereka. Mereka yang telah kecanduan parah bahkan tidak bisa mengendalikan diri dalam melakukan masturbasi meskipun berada di tempat umum.

  • Sulit mendapatkan klimaks

Terlalu sering merangsang diri dengan cara yang berbeda dari cara pasangan mensimulasikan seks bisa membuat Anda mengalami gangguan ejakulasi. Akibatnya, Anda menjadi sulit mencapai klimaks saat berhubungan dengan pasangan.


Mitos Bahaya Onani

Onani tidak menyebabkan kebutaan, gangguan mental, menjadi pemicu jerawat, atau penyebab kebotakan. Onani merupakan kegiatan seksual yang relatif aman karena tidak mendatangkan risiko terkena penyakit menular seksual jika dilakukan sendiri.

Selain itu, onani tidak akan berdampak kepada kemampuan pria dalam memproduksi sperma. Sperma dapat diproduksi terus-menerus oleh pria. Ketika mengalami ejakulasi setelah melakukan onani, memang dibutuhkan waktu sebelum pria dapat berejakulasi kembali. Ini adalah hal yang normal.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda merasa mengalami cedera atau gangguan lainnya setelah melakukan onani.




Mengenal Priapism dan Bahayanya pada Penis Pria



doktersehat priapism

Inkes  – Selama ini kita hanya mengenal gangguan dari penis berupa impotensi atau ketidakmampuan penis melakukan ereksi. Gangguan ini sangat ditakuti oleh pria sehingga mereka akan melakukan apa saja agar kondisi ereksi yang penting untuk berhubungan seks tidak terganggu. Kalau penis tidak bisa ereksi dengan sempurna, mereka tidak bisa melakukan seks dengan baik.

Selain kondisi disfungsi ereksi, ternyata ada gangguan lain yang terjadi pada penis. Gangguan ini sedikit berkebalikan dengan kondisi disfungsi ereksi. Gangguan ini justru membuat penis terus mengalami ereksi sehingga menimbulkan rasa sakit.

Apa itu priapism?

Kita mungkin masih awam dengan istilah priapism yang jarang terjadi pada pria. Kondisi ini menyebabkan penis tidak bisa mengalami penurunan volume dalam di dalam jaringan tisunya. Kondisi ini menyebabkan penis jadi terus membesar, memerah, dan saat dipegang jadi sakit dan ngilu.

Normalnya, ereksi pada pria akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Saat orgasme didapatkan dan ejakulasi terjadi, penis akan kembali lemas karena kecapaian. Kondisi ini akan berjalan selama beberapa menit sebelum akhirnya penis bisa mengalami ereksi lagi.

Kondisi priapism tidak mengizinkan ereksi hilang dengan mudah. Pria akan mengalami ereksi hingga empat jam sehingga bisa dibayangkan sendiri seperti apa sakitnya menahan ereksi hingga berjam-jam.

Jenis priapism

Secara umum ada dua jenis priapism yang terjadi pada pria.

  • Ischemic priapism. Gangguan priapism jenis ini adalah yang umum terjadi pada pria. Darah di dalam penis tidak bisa keluar sehingga organ vital ini akan terus mengeras dan bagian glans atau kepalanya sedikit membengkak. Penis yang ada pada kondisi ini akan merasakan sakit saat disentuh.
  • Non-ischemic priapism. Kondisi priapism jenis ini muncul karena ada trauma atau patah pada penis. Patahnya penis menyebabkan pembuluh darah robek dan mengalirkan banyak darah ke penis sehingga ukuran dari penis akan membesar. Kondisi ini biasanya tidak memberikan efek sakit meski penanganan harus segera dilakukan.

Bahaya priapism pada pria

Kondisi priapism yang terjadi pada penis memiliki cukup banyak dampak negatif sehingga pria harus mewaspadainya. Berikut beberapa efek samping priapism.

  • Kondisi non-ischenic priapism biasanya bisa sembuh sendiri. Namun, kalau kondisi ini terus berulang bisa menyebabkan kerusakan pada penis. Jadi, begitu mengalami kondisi ini penanganan yang tepat harus dilakukan.
  • Rasa sakit yang intensitasnya tinggi. Pria yang mengalami priapism akan susah melakukan aktivitas harian. Penisnya akan terus mengalami ereksi hingga berjam-jam sehingga sudah dipakaikan celana dalam dan ditekuk.
  • Meski darah di dalam penis akhirnya bisa turun dan penis menjadi lebih lemas dan ada pada kondisi flaccid, rasa sakit dan ngilu akan tetap ada sehingga pria merasa takut mengalami ereksi kembali karena takut tidak bisa lemas kembali.
  • Terjebaknya darah cukup lama di dalam penis bisa menyebabkan sel yang ada di dalam penis jadi mati. Kondisi ini akan sangat berbahaya untuk kemampuan ereksi dan seksual di kemudian hari.
  • Kondisi priapism yang berlebihan bisa menyebabkan disfungsi ereksi pada pria.

Cara menyembuhkan priapism

Penis yang susah kembali ke kondisi awal biasanya membutuhkan pengobatan berupa obat untuk meredakan konsentrasi darah di dalam penis. Selanjutnya, salep atau krim yang memberikan rasa dingin juga diperlukan untuk membuat pria lebih nyaman hingga penisnya kembali ke kondisi lemas atau flaccid.

Priapism ini bisa terjadi pada siapa saja khususnya mereka yang memiliki gangguan darah seperti leukemia atau thalassemia. Semoga kondisi di atas tidak terjadi pada kita semua, ya!




7 Causes of Diabetes in Young Men: Habits You Need to Change



doktersehat pemicu diabetes pada pria muda

InkesMedik –  Here is the translation of the article into English, followed by SEO titles and a meta description.

7 Major Causes of Diabetes in Young Men: Why You Are at Risk

Diabetes does not discriminate; it can affect anyone, regardless of gender. While the disease often develops with age, cases of early-onset diabetes are increasingly common among young men and women, leading to significant long-term bodily damage.

Statistically, men are more prone to obesity than women, often due to neglected lifestyle habits. When obesity occurs at a young age, it serves as a gateway to metabolic disorders. If you want to avoid a diabetes diagnosis in your prime, you must pay attention to these seven primary triggers.

1. Obesity

Obesity is the leading cause of diabetes in productive-age men. Excess body fat doesn't just change your appearance; it disrupts testosterone production and causes insulin resistance. This condition also strains the heart and cardiovascular system. Reducing body fat is the single most effective way for men to lower their diabetes risk.

2. Genetics and Family History

Genetics play a significant role in determining your risk. If your parents or grandparents had diabetes, you are biologically predisposed to the condition. While not a 100% guarantee you will get it, you must be more vigilant than others by adopting a healthy lifestyle and monitoring sugar intake early on.

3. Poor Dietary Habits

What you eat is a massive factor. Consistently high blood sugar levels from poor food choices lead to insulin resistance. To keep your body stable, switch to low-calorie sweeteners and limit your intake of refined carbohydrates like white rice.

4. Alcohol and Smoking

While the effects might not be visible immediately, alcohol and smoking damage the body at a cellular level. These habits slow down your metabolism, promote obesity, and decrease insulin production. Quitting smoking and limiting alcohol are essential steps to avoiding metabolic decline.

5. Sleep Deprivation and Stress

Young men often stay active late into the night. Chronic "all-nighters" lead to physical exhaustion and high stress levels. Stress hormones disrupt the metabolism, making it difficult for the body to maintain healthy blood sugar levels. Furthermore, stress often leads to emotional overeating.

6. Viral Infections

Certain dangerous viruses, such as rubella, mumps, and adenoviruses, can attack and damage the cells in the pancreas. Since the pancreas is responsible for insulin, viral damage can slowly lead to diabetes. Early treatment of infections is crucial to prevent pancreatic dysfunction.

7. Sedentary Lifestyle

A lack of physical activity is a recipe for disaster. Without exercise, metabolism slows down, and fat accumulates easily. Men should aim for consistent physical activity—at least three times a week—to keep the metabolic engine running and prevent insulin issues.